placing ad

45 Minggu dalam penantian

Share on Facebook Tweet on Twitter
Hari ini 9 th yang lalu Alhamdulillah akhirnya lahirlah seorang bayi munggil lucu dg berat 3.7 kg yang sudah  kami tunggu tunggu selama 45 minggu

Ya 45 Minggu waktu yang tidak biasa bagi sebuah penantian seorang bayi yang biasanya hanya 38 atau 40 Minggu

Waktu itu bisa di bilang kami pasangan muda yang belum punya banyak pengalaman dan ilmu tentang berumah tangga dan segala pernak perniknya

Yang kami tau saat itu kami di pertemukan Allah dan kami saling cocok dan yang ada di pikiran kami ya menikah dan halal meski waktu itu kami baru berusia 20 dan suami 21 th,

Dan terhindar dari segala macam dosa besar yang kemungkinan terjadi

Dan Alhamdulillah Allah memberi amanat kehamilan anak pertama tanpa menunggu waktu lama,tentu saja kami senang bersyukur tak terhingga lengkaplah kebahagiannya kami Alhamdulillah,

Sama seperti pasangan lain hari2kami di penuhi kebahagiaan dan penantian yang menggebu

Dari bulan pertama hamil sampai menginjak 8 bulan lebih kehamilan berjalan lancar kata bidan bayi dan ibunya sehat,sampai menginjak bulan ke sembilan dan sudah menghitung hari mendekati HPL ( hari perkiraan lahir) waktu itu di perkirakan tgl 25 Agustus ,belum ada tanda tanda kelahiran ,kami masih santai dan sabar menunggu hingga memasuki bulan September kami molai bertanya tanya? Kenapa kok belum mules2 ya? ( Belum ada kontraksi)

Kemudian kami datang kebidan, kesimpulan nya kondisi bayi sehat tidak masalah ,di tunggu 1minggu lagi mbak ! nanti kalau belum lahir juga kesini lagi ,begitu kata beliau

Sampai waktu seminggu kemudian tepatnya tgl 17 September saya dan suami datang lagi ke bidan,kali ini perasaan kami sudah tidak karuan
Cemas,khawatir,takut tp kami berusaha tenang dan meminta yang terbaik kepada Allah

Singkat cerita kami di rujuk ke rumah sakit Kartini jepara dan bertemu dgn dokter spesialis kandungan,lama beliau memeriksa

Raut wajah dokter mungkin sedikit geram, sedikit kecewa beliau berkata "kenapa g langsung ke rumah sakit waktu sudah tau kelewat HPLnya??" Hati kami terasa tidak karuan wah ini pasti ada masalah??? Aku bertanya dlm hati,

Ya dok kata Bu bidan kondisinya baik baik saja dan kami di suruh menunggu, jawab saya

Siapa bidannya???sedikit meninggikan suaranya dokter itu bertanya lagi??

Saya menjawab sambil sedikit meneteskan air mata, waktu itu hati kami sudah g karu karuan, ini pasti ada yg g beres dg kehamilan ku

Kemudian dokter menerangkan kalau saya mengalami pengapuran dan ada sedikit gangguan pada hormon prostaglandin sehingga otot rahim sampai waktunya tidak mengalami kontraksi apapun,

Dokter bilang ini serotenus,dan jika pemeriksaan kondisi sang ibu buruk ( tensi darahnya tinggi ) maka akan memicu presiden eklamsia. Atau eklamsia, dan ini sangat berbaya bagi keselamatan keduanya (ibu dan anak)

Sampai sekarang ke dua gejala tapi kabarnya belum bisa di deteksi secara pasti penyebabnya

Waktu itu saya tidak begitu paham apa maksudnya,karna dulu belum punya smart phone yang bisa google dan browser sesuka hati, jadi yang ada di pikiran kami hanya yakin kalau besok pagi akan melihat seorang bayi mungil yang akan segera menemani kami di dunia,dg apapun caranya, meski nyawaku taruhannya kami akan berjuang,dg cara apapun

Maklum waktu itu saya dan suami belum punya penghasilan tetap ,banyak orang yang mencibir dan menyayangkan keputusan kami untuk buru buru menikah bahkan ada yang secara terang terangan maido ( istilahnya) menyalahkan keputusan kami

Kami masih ingat betul waktu itu tgl 29 romadhon malam takbir, dokter memberi pilihan,bayi harus segera di lahirkan malam ini juga, ada 2 opsion 1)induksi 2)SC tanpa tau banyak  apa itu induksi saya pilih option yang pertama karna bisa lahir normal, meski dokter memberi tau resikonya kalau induksi gagal harus bersedia di SC ,

Dokter molai meletakkan kabel kabel yang di tempel di sekitar dada yang terhubung dg monitor untuk beberapa waktu yang cukup lama,tujuannya untuk memastikan kondisi jantung bayi dan ibu baik baik saja

Bismillahirrahmanirrahim akhirnya induksipun di molai persiapan dr jam 14.00 wib dokter memasukkan satu persatu tahapan induksi molai dr infus,sampai obat sebesar jempol ke jalur lahir tujuannya untuk proses pembukaan, Alhamdulillah perbukaan milai berjalan satu persatu dari bukaan 2 sampai 6 masih bisa saya tahan tapi masyaallah molai bukaan selanjutnya seakan perut ini rasanya seperti di robek robek,sudah tidak tertahan lagi rasanya pingin teriak melepas rasa sakitnya,tapi saya yakin Allah melihat setiap detik rasa sakit itu,

Dan pasti setiap ibu mengalami hal yang serupa seperti ku,pikirku dlm hati

Dan ibu... Ya ibuku yang pertama terlintas di benakku,

Ibuku dulu seperti ini perjuangan nya ketika melahirkan aku(pikirku),jadi aku harus kuat

"La Haula wa la quwwata Illa Billah"hanya itu yang bisa aku ucapkan berkali kali di mulutku, berharap datanglah kekuatan Allah yang bisa menolongku" yang bisa segera mempertemukan aku dg si kecil yang ada di perutku ini

Sesaat kemudian ku lihat ibuku menangis karena tidak tega melihatku kesakitan,saat itu ibu mengucapkan kata "maafkan aku"

Sampai sekarang aku tidak tau,

Bukankah aku yg seharusnya mengucapkannya???

Suami yang panik bolak balik mencari dokternya,agak sedikit emosi juga dari raut wajahnya(karna memang perasaan kalut,cemas khawatir campur campur) ,tp apa daya dia hanya bisa melihatku sesekali ,karna para petugas medis hanya mengizinkan kalau aku butuh jarik,atau kain untuk mengganti alas saja,setelah itu suami tidak boleh masuk ataupun menunggui di dalam

Sampai akhirnya mentok di bukaan 7 waktu itu ,waktu menunjukkan pukul 00.00 dokter menyarankan untuk TTD SC saja,tanpa pikir panjang suami pun segera menyetujuinya,

tapi Alhamdulillah ketika persiapan operasi di lakukan bayi seakan akan  pingin menerobos keluar,sehingga bukannya bertambah menjadi 9 ,kurang sedikit lagi kata Bu bidan,ayo bertahan Bu, tak lama kemudian tepat jam 01.00 malah lahirlah mas Ayyub

Tetapi karena kasus kehamilanku ini  kelewat bulan saat itu kondisi mas Ayyub kritis dan harus segera di bawa ke ruang ICU,dg kondisi sekujur badan berwarna kuning kehijauan,dan harus segera transfusi darah

Takbir bersahutan silih berganti menemani malam panjang kami,hati terasa penuh ,air mata tak terbendung lagi,saya melihat suami menutupi mulutnya dan berbalik karna tak kuat menahan tangis,bisa ku rasakan sesak di dadanya,dg terlihat berguncang ke2 bahunya yang lelah itu,

 Setelah mengadzani mas Ayyub,beliau berbisik memberi nama pada buah hati kami "Sholahuddin Yusuf Al Ayyubi" dlm nama itu terselio  do'a dan harapan besar,

seorang tokoh Sholih seorang panglima cerdas dan kuat di masa lalu di tanah Palestina, (semoga Allah selalu merindhoi dan mengabulkan doa doa kami) amin ,itulah inspirasi kami

Suami di minta bergerak cepat untuk mencari darah di rumah sakit lain,golongan darahnya O  sama dgn golongan darah suami

Tp karena kondisi suami yg tidak memungkinkan karena terlalu lelah dan lemas  untuk diambil darahnya jadi dokter menolak untuk mengambil darahnya

Saat itu malam takbir,besok lebaran banyak instansi yang tidak ada petugasnya,termasuk PMI waktu itu harus menunggu beberapa jam sampai dini hari baru dapat darahnya, (sempat lari sana sini menghubungi kerabat sana sini, berharap ada yang donor secepatnya)

Keesokan harinya perawat menginstruksikan untuk waktunya memberi ASI pd mas Ayyub, sambil menjelaskan kondisinya mas Ayyub,karna selain harus transfusi mas Ayyub juga harus melewati pemeriksaan lubang anus dan lubang kencingnya , astagfirullah .... Apa lagi ini pikirku, sambil menangis dan mata sembab dan bengkak karena menangis saya mendengarkan keterangan dokternya

Karena di dalam lubang kencingnya terdapat gumpalan daging kecil yang menghambat keluarnya urin jadi selama lebih dr 12 jam mas Ayyub belum pipis juga,

Tidak tega rasanya bayi yang baru di lahirkan semalam harus di di selang selang sekujur badannya ,dan harus menangis setiap kali di masukkan selang kecil sebesar kawat ke dalam lubang pipisnya,😭

ya Allah saat itu lebih menyakitkan menyaksikan dia menangis kejer,dari pada sakitnya proses kelahirannya semalam, aku menangis sejadi jadinya seperti anak kecil, tidak ku pedulikan semua pasang mata memandangku di luar ruangan ICU

Aku melirik suamiku yang saat itu menenangkanku beliau juga sesekali menyeka ujung matanya yang sembab dg tangan dan menahan nafas

Dokter bilang,"mboten menopo Bu" mangke misal pemeriksaannya menunjukkan kalau ternyata masih ada saluran normal,nanti tidak jadi operasi kok!paling operasi kecil saja kaya orang sunat ,

Ternyata Alhamdulillah semua normal dan hanya operasi kecil untuk mengambil sedikit gumpalan daging yang menutupi saluran kencingnya mas Ayyub, dan dia bisa pipis dg normal tanpa bantuan kateter lagi,
Segala puji bagi Allah kami semua sekeluarga ucapkan

6hari kemudian

Sore itu betapa senangnya hatiku ketika datang perawat membawa box bayi ,dan membawa kabar baik bahwa mas Ayyub sudah pulih,dan aku bisa menggendong sepuasnya,
Kemudian saya tanya sudah boleh pulang kan Bu??

Belum sampai di jawab tiba tiba dokter datang  memeriksa file dan perutku

Dokter bilang" curiga sisa ini Bu" saya tidak begitu tau maksudnya,tapi pasti ada yang g beres lagi

Lalu saya bertanya " maksudnya nopo geh??"
Dokter bilang,ibu harus di curret kalau ternyata hasil USG nanti hasilnya masih ada yang tertinggal plasentanya , masyaallah seperti di sengat listrik sekujur tubuhku tiba2 lunglai dan senyum yg semula ada itu kini berganti tangis lagi

Masih segar betul 7hari lalu rasa sakitnya di rogoh(curret langsung pake tangan bidan tanpa bius) dan di episium (di guting) jemudian di jahit tanpa bius,sampai harus di sumpal mulut ini dg kain supaya bisa menahan sakitnya,dan kadang kadang ke dua selangkangan bergetar hebat(kejang) saking tidak kuat menahan sakitnya ( karna jahitannya tidak hanya 1 atau 5)kata bidannya "ini bukan jahitan tapi obrasan"

La ini kok mau di curret lagi,di bersihkan dalamnya??? Seketika itu saya menolak

Tapi karna hasil USG memang masih ada yang sisa banyak di dlm perut jadi harus di curret,

Efeknya kalau tidak di keluarkan nanti akan terjadi pendarahan hebat dan kemungkinan fatal akan terjadi, masyaallah..... Ya Allah paringi kuat....😭

Alhamdulillah para perawat di sana baik baik, tau kondisi mental saya yang masih dlm keadaan trauma jadi,ada seorang bidan yang mau berlama-lama membujuk dan menenangkan saya,sehingga akhirnya saya menjalani curret

Ternyata proses current tidak seperti yang saya bayangkan, jadi saya di bius total dan tidak merasakan apa apa,

Terima kasih untuk semua pihak yang telah berperan menemani saya waktu itu,

Menurut saya saat itu adalah momentum berharga bagi saya

Tidak seperti kata orang orang yang selalu mencibir dan menyalakan pernikahan saya

Begitu Banyak sekali pelajaran yang bisa terlihat saat itu,

Maka nikmat Allah mana lagi yang kau dustakan???

Saya menulis ini sebagai berbagi pengalaman dan semoga bisa di ambil hikmahnya dan juga bisa mewaspadai adanya eklamsia pada kehamilan,yang sekarang kerap terjadi

Maka peran suami sangat penting di sini untuk menenangkan si ibu

Di kesempatan ini umi dan Abi akan selalu mendukung ,berdoa dan berjuang sekuat tenaga untukmu mas Ayyub jadilah anak Sholih dan bahagia,

Sholahuddin Yusuf Al ayyubi
Share on Facebook Tweet on Twitter

About the author

author
ratna restuningsihRealase at

Nothing

0 komentar

Comment Now